foto dari mojok.co Di Jogja, “burjo” bukan sekadar bubur kacang hijau. Ia telah berevolusi menjadi istilah budaya: warung makan indomie (warmindo) yang jadi ruang hidup mahasiswa. Tempat di mana uang pas-pasan masih bisa berubah jadi sepiring nasi telur, mie instan telur, atau sekadar kopi susu hangat tengah malam. Burjo adalah ruang egaliter. Di sana, siapa pun bisa duduk berdampingan, mahasiswa skripsi, anak kos akhir bulan, sampai yang sekadar mencari tempat nongkrong murah. Tidak ada elitis, tidak ada formalitas. Yang ada hanya cepat, murah, kenyang. Lalu ada “borjuis". Bukan sekadar istilah ekonomi, tapi simbol kelas sosial yang hidup dalam gaya, selera, dan jarak. Borjuis identik dengan kenyamanan yang terkurasi, makanan yang estetik, kopi yang punya cerita asal biji, dan tempat yang lebih sering dipilih karena “experience” daripada sekadar mengisi perut. Jika burjo adalah tentang bertahan hidup, maka borjuis adalah tentang memilih cara hidup. Namun menariknya, keduanya ...
Hanya sebuah bait kata, tanpa makna