Skip to main content

Burjois vs Borjuis

foto dari mojok.co

 Di Jogja, “burjo” bukan sekadar bubur kacang hijau. Ia telah berevolusi menjadi istilah budaya: warung makan indomie (warmindo) yang jadi ruang hidup mahasiswa. Tempat di mana uang pas-pasan masih bisa berubah jadi sepiring nasi telur, mie instan telur, atau sekadar kopi susu hangat tengah malam. Burjo adalah ruang egaliter. Di sana, siapa pun bisa duduk berdampingan, mahasiswa skripsi, anak kos akhir bulan, sampai yang sekadar mencari tempat nongkrong murah. Tidak ada elitis, tidak ada formalitas. Yang ada hanya cepat, murah, kenyang.

Lalu ada “borjuis". Bukan sekadar istilah ekonomi, tapi simbol kelas sosial yang hidup dalam gaya, selera, dan jarak. Borjuis identik dengan kenyamanan yang terkurasi, makanan yang estetik, kopi yang punya cerita asal biji, dan tempat yang lebih sering dipilih karena “experience” daripada sekadar mengisi perut.

Jika burjo adalah tentang bertahan hidup, maka borjuis adalah tentang memilih cara hidup. Namun menariknya, keduanya tidak selalu berseberangan. Banyak dari kita yang siang bisa makan di cafe estetik, malamnya tetap kembali ke burjo karena realitas mahasiswa tidak selalu seindah feed Instagram.

Pada akhirnya, burjois dan borjuis bukan hanya soal tempat makan atau kelas sosial. Ia adalah cermin tentang bagaimana kita bergerak di antara kebutuhan, identitas, dan cara kita memaknai kenyamanan.

Dan di Jogja, batas keduanya sering kali hanya satu hal yaitu
isi dompet.

Comments

Popular posts from this blog

Dongox ? 32 ?

Nama : Nurdana Ahmad Fadil NIM   : 16523172 Dongox ? 32 ?    Semua itu berawal dari hari pertama MOS sma saya, waktu itu saya diterima di SMA N 1 COMAL yang berlokasi di Pemalang, Jawa Tengah. Jadi kronologisnya waktu semua angkatan siswa baru disuruh jargon oleh guru, saya sendiri yang tidak mengumandangkan jargon dan kebetulan sekali saya duduk paling depan dan saat itu juga saya disuruh maju di hadapan semua siswa baru tapi dengan PDnya saya langsung memberanikan diri maju kedepan semua siswa baru dan disuruh jargon sendirian dan waktu MOS hari pertama telah usai saat pulang dari sma tersebut tiba-tiba teman akrab saya bilang kalau saya dongok atau bahasa yang familiar yaitu dungu atau goblok tapi saya malah tertawa terbahak-bahak dan mulai saat itu saya dipanggil Dongok, kok pakai X ? biar keren aja sih kwkwk    Angka 32 yaps itu sangat berkesan bagi saya mengapa itu adalah nomor presensi saya kelas 11 SMA yang mana kelas 11 saya waktu itu sangat n...

manusia dan angka

  Manusia dan segala angka tentangnya Sesimpul harap yang dirapal manusia Merayakan angka yang perlahan sirna Dan manusia lupa, segala yang diraya akan tiada Manusia begitu khusyuk pada bahagia dan sedinya Hingga lupa bahwa keduanya, hanya singgah sementara Merayakan tanpa arti dan merenungi tanpa mengerti Manusia sering lupa bahwasanya tiada yang abadi Satu satunya yang abadi ialah HIDUP JOKOWIIIII!!!!!

Takutnya sebuah bangsa di tahun 65

      Foto dari ava twitter @faridstevy    Sekilas mengulik kejadian tahun 65 dari berbagai sudut, mulai dari pro dan kontra yang sampai saat ini kita hanya menjadikan tahun ini tahun kelam bangsa indonesia. Setelah saya tarik sedikit benang merahnya, alasan dilakukannya pembantaian adalah "ketakutan", dari ketakutan ini akal sehat bangsa indonesia mulai tergerus. Bangsa kita sudah tidak bisa membedakan mana baik/buruk dan benar/salah.      Bangsa yang sangat besar ini yang sering kita sebut Indonesia pernah melukai tubuhnya sendiri dengan alasan akan "ketakutan". Prosedur hukum yang kita sepakati bersama telah dipandang sebelah mata, kata sebagian orang 'owh tidak apa-apa demi bangsa dan negara, indonesia wajib melakukan pembantaian ini' dan dari sisi lain 'loh ya Indonesia punya hukum kok seenaknga sendiri, emang semua yang hilang dan mati itu benar melakukan ksaalahan?'.   Ada yang mengganggap dalang dari pembantaian ini se...