Lalu ada “borjuis". Bukan sekadar istilah ekonomi, tapi simbol kelas sosial yang hidup dalam gaya, selera, dan jarak. Borjuis identik dengan kenyamanan yang terkurasi, makanan yang estetik, kopi yang punya cerita asal biji, dan tempat yang lebih sering dipilih karena “experience” daripada sekadar mengisi perut.
Jika burjo adalah tentang bertahan hidup, maka borjuis adalah tentang memilih cara hidup. Namun menariknya, keduanya tidak selalu berseberangan. Banyak dari kita yang siang bisa makan di cafe estetik, malamnya tetap kembali ke burjo karena realitas mahasiswa tidak selalu seindah feed Instagram.
Pada akhirnya, burjois dan borjuis bukan hanya soal tempat makan atau kelas sosial. Ia adalah cermin tentang bagaimana kita bergerak di antara kebutuhan, identitas, dan cara kita memaknai kenyamanan.
Dan di Jogja, batas keduanya sering kali hanya satu hal yaitu
isi dompet.

Comments
Post a Comment