Skip to main content

Tujuan Adalah Pondasi Awal Berproses

          Kepanitiaan adalah awal saya kenal dan akrab dengan yang namanya tujuan, tujuan di sini bukan dalam hal yang sepele melainkan hal yang sakral dan harus dipikirkan matang-matang. Kerap kali ketika Kita membentuk atau membuat tujuan didasarkan kepada hal-hal sepele yang menurut saya pribadi adalah salah besar, sebelum melanjutkan tulisan ini yang saya buat, saya di sini menegaskan bahwa tulisan ini adalah opini saya yang sangat-sangat subjektif jadi bila bertentangan dengan opini anda ataupun fakta yang ada saya mohon maaf, karena tulisan ini dibuat karena pengalaman bukan dari data kuisioner ataupun wawancara yang saya kumpulkan.
Perjalanan, bukankah kita akrab dengan yang namanya perjalanan, terutama perjalanan hidup yang kerap kali kita jalani. Berawal dari tangisan kita ketika lahir di dunia berujung kesunyian ketika nyawa sudah tiada. Perjalanan hidup ini saya bisa setarakan dengan 'berproses' entah terlihat setara atau tidak, Otak saya baru bisa mencari padanan kata yang yaitu 'berproses' entah kalian mau percaya opini saya ini atau tidak. Berproses di sini memanifestasikan suatu pergerakan entah itu pola pikir atau bahkan benda mati. Pembeda yang signifikan antara berprosesnya suatu mahluk berakal dan tidak adalah kualitas dari tujuan yang mereka atur sendiri, menurut saya tujuan yang dimiliki mahluk berakal adalah tujuan yang sangat idealis atau bisa saya katakan tujuan itu murni dari gagasan-gagasan yang mereka buat sendiri bukan paksaan ataupun perintah.
Adanya suatu proses yang kita lakukan pasti membutuhkan namanya pondasi, di dalam pondasi ini saya bisa manifestasikan yaitu tujuan, sesuai judul ketika kita ingin berproses pondasi awal kita adalah tujuan jadi semua hal yang kita lakukan nanti pasti akan tersususn rapi karena ada suatu arahan yaitu tujuan. Selama berproses kita tidak melenceng dari pondasi awal kita buat pasti proses itu akan kokoh dan tahan lama, entah itu dalam berproses sering terjadi masalah yang bergilir menanti. Semoga tujuan hidup kita di dunia ini sudah kita cetak, sudah kita gagas agar selama berproses dalam hal yang bernama kehidupan bisa tertata rapi. Sekian, salam.
              


Comments

Popular posts from this blog

Dongox ? 32 ?

Nama : Nurdana Ahmad Fadil NIM   : 16523172 Dongox ? 32 ?    Semua itu berawal dari hari pertama MOS sma saya, waktu itu saya diterima di SMA N 1 COMAL yang berlokasi di Pemalang, Jawa Tengah. Jadi kronologisnya waktu semua angkatan siswa baru disuruh jargon oleh guru, saya sendiri yang tidak mengumandangkan jargon dan kebetulan sekali saya duduk paling depan dan saat itu juga saya disuruh maju di hadapan semua siswa baru tapi dengan PDnya saya langsung memberanikan diri maju kedepan semua siswa baru dan disuruh jargon sendirian dan waktu MOS hari pertama telah usai saat pulang dari sma tersebut tiba-tiba teman akrab saya bilang kalau saya dongok atau bahasa yang familiar yaitu dungu atau goblok tapi saya malah tertawa terbahak-bahak dan mulai saat itu saya dipanggil Dongok, kok pakai X ? biar keren aja sih kwkwk    Angka 32 yaps itu sangat berkesan bagi saya mengapa itu adalah nomor presensi saya kelas 11 SMA yang mana kelas 11 saya waktu itu sangat n...

manusia dan angka

  Manusia dan segala angka tentangnya Sesimpul harap yang dirapal manusia Merayakan angka yang perlahan sirna Dan manusia lupa, segala yang diraya akan tiada Manusia begitu khusyuk pada bahagia dan sedinya Hingga lupa bahwa keduanya, hanya singgah sementara Merayakan tanpa arti dan merenungi tanpa mengerti Manusia sering lupa bahwasanya tiada yang abadi Satu satunya yang abadi ialah HIDUP JOKOWIIIII!!!!!

Takutnya sebuah bangsa di tahun 65

      Foto dari ava twitter @faridstevy    Sekilas mengulik kejadian tahun 65 dari berbagai sudut, mulai dari pro dan kontra yang sampai saat ini kita hanya menjadikan tahun ini tahun kelam bangsa indonesia. Setelah saya tarik sedikit benang merahnya, alasan dilakukannya pembantaian adalah "ketakutan", dari ketakutan ini akal sehat bangsa indonesia mulai tergerus. Bangsa kita sudah tidak bisa membedakan mana baik/buruk dan benar/salah.      Bangsa yang sangat besar ini yang sering kita sebut Indonesia pernah melukai tubuhnya sendiri dengan alasan akan "ketakutan". Prosedur hukum yang kita sepakati bersama telah dipandang sebelah mata, kata sebagian orang 'owh tidak apa-apa demi bangsa dan negara, indonesia wajib melakukan pembantaian ini' dan dari sisi lain 'loh ya Indonesia punya hukum kok seenaknga sendiri, emang semua yang hilang dan mati itu benar melakukan ksaalahan?'.   Ada yang mengganggap dalang dari pembantaian ini se...