Horeee Ramadhan datang lagi,
adzan maghrib masih menjadi adzan paling merdu,
namun tempat itu menyisakan sunyi
karena ada seseorang tidak di sana lagi.
syukur, Ramadhan sekarang banyak tersenyum,
bisa tertawa lepas saat cerita hal hal gak penting,
atau terbahak bahak tentang hidup yang bikin pening,
Buk, Dana merasa senang, benar-benar senang
namun di setiap kesenangan ini
selalu ada satu ruang kosong
yang diam-diam terisi sedih.
Ruang itu bernama:
“andaikan rasa senang ini
bisa Dana ceritakan ke Ibuk”
Dana sering membayangkan,
jika Ibuk masih di samping Dana,
Dana akan bercerita panjang lebar,
tentang hari-hari Dana,
tentang mimpi-mimpi Dana,
tentang kesoktahuan Dana,
tentang begitu lemahnya Dana,
dan tentang, semua tentang Dana
Bersama kesusahan ada kemudahan.
Mungkin inilah bentuk kemudahan itu
Dana tidak lagi gelisah memikirkan kondisi Ibuk,
Dana tidak lagi cemas menebak-nebak rasa sakit Ibuk,
karena Dana percaya
Ibuk sudah berada di tempat yang lebih nyaman,
lebih lapang dan lebih tenang.
Kini diam terasa lebih matang,
hati terasa lebih dalam,
dan kata kata terasa lebih tulus,
Ramadhan kali ini,
belajar bahwa kehilangan
bisa menjadi jalan pulang
yang lebih khusyuk.
Dan meski setiap kebahagiaan Dana
selalu menyisakan satu ruang kosong,
Dana tahu, ruang itu bukan hanya milik sedih,
tapi juga milik cinta yang tidak pernah selesai.
Ramadhan pertama tanpa Ibuk,
namun tidak pernah tanpa doa dari dan untuk Ibuk.

Comments
Post a Comment