Skip to main content

Posts

010620250742 With Full of Love

1 Juni 2025, pukul 07.42 WIB Ada banyak hal yang sudah aku lupa, tetapi waktu itu masih kuingat dengan jelas. Itu adalah pagi ketika Ibu sudah tidak sakit lagi. Sejak hari itu, aku masih menjalani hidup seperti biasa. Bangun pagi, bekerja, bertemu orang-orang, tertawa pada beberapa hal, dan mengeluh pada hal lainnya. Tetapi ada satu yang berbeda. Aku tidak bisa lagi menelepon Ibu. Tidak bisa lagi bercerita tentang hariku. Tidak bisa lagi mendengar pertanyaan sederhana, "Sudah makan belum?" Aku sering merindukan hal-hal kecil itu. Semakin dewasa, aku semakin mengerti bahwa cinta Ibu tidak selalu hadir dalam kata-kata besar. Cinta itu ada dalam doa-doa yang diam, dalam kekhawatiran yang sering tidak terlihat, dan dalam pengorbanan yang dulu kuanggap biasa. Hari ini aku masih melangkah. Kadang kuat, kadang tidak. Tetapi aku tahu, di setiap langkah yang baik, ada bagian dari Ibu yang ikut hidup di dalam diriku. Dan jika suatu hari orang bertanya apa yang paling aku ingat tentang ...

Takutnya sebuah bangsa di tahun 65

      Foto dari ava twitter @faridstevy    Sekilas mengulik kejadian tahun 65 dari berbagai sudut, mulai dari pro dan kontra yang sampai saat ini kita hanya menjadikan tahun ini tahun kelam bangsa indonesia. Setelah saya tarik sedikit benang merahnya, alasan dilakukannya pembantaian adalah "ketakutan", dari ketakutan ini akal sehat bangsa indonesia mulai tergerus. Bangsa kita sudah tidak bisa membedakan mana baik/buruk dan benar/salah.      Bangsa yang sangat besar ini yang sering kita sebut Indonesia pernah melukai tubuhnya sendiri dengan alasan akan "ketakutan". Prosedur hukum yang kita sepakati bersama telah dipandang sebelah mata, kata sebagian orang 'owh tidak apa-apa demi bangsa dan negara, indonesia wajib melakukan pembantaian ini' dan dari sisi lain 'loh ya Indonesia punya hukum kok seenaknga sendiri, emang semua yang hilang dan mati itu benar melakukan ksaalahan?'.   Ada yang mengganggap dalang dari pembantaian ini se...

Burjois vs Borjuis

foto dari mojok.co  Di Jogja, “burjo” bukan sekadar bubur kacang hijau. Ia telah berevolusi menjadi istilah budaya: warung makan indomie (warmindo) yang jadi ruang hidup mahasiswa. Tempat di mana uang pas-pasan masih bisa berubah jadi sepiring nasi telur, mie instan telur, atau sekadar kopi susu hangat tengah malam. Burjo adalah ruang egaliter. Di sana, siapa pun bisa duduk berdampingan, mahasiswa skripsi, anak kos akhir bulan, sampai yang sekadar mencari tempat nongkrong murah. Tidak ada elitis, tidak ada formalitas. Yang ada hanya cepat, murah, kenyang. Lalu ada “borjuis". Bukan sekadar istilah ekonomi, tapi simbol kelas sosial yang hidup dalam gaya, selera, dan jarak. Borjuis identik dengan kenyamanan yang terkurasi, makanan yang estetik, kopi yang punya cerita asal biji, dan tempat yang lebih sering dipilih karena “experience” daripada sekadar mengisi perut. Jika burjo adalah tentang bertahan hidup, maka borjuis adalah tentang memilih cara hidup. Namun menariknya, keduanya ...

Tujuan Adalah Pondasi Awal Berproses

           Kepanitiaan adalah awal saya kenal dan akrab dengan yang namanya tujuan, tujuan di sini bukan dalam hal yang sepele melainkan hal yang sakral dan harus dipikirkan matang-matang. Kerap kali ketika Kita membentuk atau membuat tujuan didasarkan kepada hal-hal sepele yang menurut saya pribadi adalah salah besar, sebelum melanjutkan tulisan ini yang saya buat, saya di sini menegaskan bahwa tulisan ini adalah opini saya yang sangat-sangat subjektif jadi bila bertentangan dengan opini anda ataupun fakta yang ada saya mohon maaf, karena tulisan ini dibuat karena pengalaman bukan dari data kuisioner ataupun wawancara yang saya kumpulkan. Perjalanan, bukankah kita akrab dengan yang namanya perjalanan, terutama perjalanan hidup yang kerap kali kita jalani. Berawal dari tangisan kita ketika lahir di dunia berujung kesunyian ketika nyawa sudah tiada. Perjalanan hidup ini saya bisa setarakan dengan 'berproses' entah terlihat setara atau tidak, Otak saya b...

Satu Rasa, Satu Jiwa

Satu Rasa, Satu Jiwa Bukan kata penyemangat Terlalu lebay untuk dibilang bagus sangat Hal yang bodoh kalau dibilang penyemangat Satu Rasa, Satu Jiwa Bukan sekadar 4 kata dan 8 kosakata Bukan hanya susunan kata yang terdengar sama Jika kita mengerti berarti kita telah merasa Suatu hal yang terlahir penuh makna Satu Rasa, Satu Jiwa Ketika tragedi menjadi memori Ketika birokrasi menjadi pemersatu hati Semua itu melebur membentuk jati diri Satu Rasa, Satu Jiwa Tak ada yang spesial dari kata tersebut Tak ada yang spesial dari foto atau atribut Tapi ada suatu hal yang tak bisa dituliskan dengan pena Tapi ada suatu hal yang tak bisa diucapkan dengan kata Apakah itu ? Kita semua pasti tahu hal itu Namun aku tak tahu seberapa berharganya dalam diri kalian akan hal itu Yang maksimal pasti akan bahagia dengan lepas Yang hampir maksimal akan bahagia dengan batas.

Lancar Bukan Berarti Sampai Tujuan

Logo PORSEMATIF 2017 (Kegitan pekan oloahraga dan seni yang bertujuan terjalinnya rasa kekeluargaan sesama angkatan Teknik Informatika 2016) Lancar Bukan Berarti Sampai Tujuan (terkadang kau fokus dengan kelancaran sampai kau lupa yang namanya tujuan)             Lancar adalah suatu hal yang sangat kita damba-dambakan entah itu urusan Pekerjaan, Pendidikan dan apapun itu, namun Kita jangan berbangga dulu selama ketika suatu proses yang Kita jalani lancar bukan berarti aman dan ketika suatu proses yang kita jalani tidak lancar bukan berarti tidak aman. Kelancaran bukanlah tolak ukur melainkan suatu bonus, namun beberapa orang akan terlena dengan bonus ini sampai-sampai ia lupa bahwa apa yang ingin ia tuju di proses ini.

Seni Adalah Ini dan Karya Adalah Kita

Logo Tetater dJemuran (UKM tingkat Fakultas yang saya geluti dari tahun 2016)      Zaman yang serba maju seperti sekarang ini memanglah sulit sekali untuk membahas yang namanya apresiasi. Kecenderungan manusia yang menjadikan individualisme sebagai landasan berpikir dan bertindak adalah salah satu dampak dari perkembangan teknologi yang terjadi pada zaman ini. Tanpa kita pungkiri semua yang berhubungan dengan individualisme adalah kehancuran bagi karya seni.          Seni mengalami gradasi nilai yang menjadikan nilai jual seni sendiri semaikin hari semakin memprihatinkanm, hal ini Saya survey dari kaum idealisme (mahasiswa). Betul sekali, semua yang Saya tuangkan kedalam blog ini sangatlah subjektif, jadi janganlah salah satu dari Kalian terdoktrin dalam pikiranku ini. Walau hasil survey sangatlah subjektif namun dalam hal seni kali ini, Saya berserta teman idealisme sekarang ini sering mengkaji suatu permasalahan dalam hal seni yang hasil...